Showing posts with label TOURISM. Show all posts
Showing posts with label TOURISM. Show all posts

Wednesday, July 13, 2011

Wisata Kawah Putih Ciwidey Bandung

KEHIDUPAN di kota telah membuat kami para mahasiswa merasa jenuh, ditambah lagi dengan tugas kuliah yang menumpuk. akhirnya kami memutuskan untuk refreshing ke suatu tempat. Singapore? Belanda? Jepang? Amerika?. Bukan itu yang kami pikirkan untuk memilih tempat liburan kali ini. kami lebih memilih tempat dengan biaya yang murah namun memiliki keindahan kelas dunia (berlebihan), tempat itu adalah Kawah Putih, Ciwidey, Kab. Bandung. 
Selama bertahun-tahun tinggal di kota Bandung, baru sekarang kami mengunjungi Kawah Putih ini, sehingga rasa penasaran menghantui kami. Perjalanan yang cukup jauh telah kami lewati, dan akhirnya tulisan "Welcome to Kawah Putih" -pun terlihat. HHahaha, setelah sekian lama akhirnya kami bertemu dengan yang namanya kawah putih. Amaizing!!, Amaizing!! itulah yang terucap dari bibir kami. Hal pertama yang kami rasakan adalah bau belerang yang cukup kuat, namun tidak mematahkan semangat kami untuk berfoto-foto di sekitar kawah putih yang eksotis itu. 
Pengalaman mengunjungi salah satu objek wisata yang disenangi masyarakat kota Bandung dan sekitarnya ini dapat kita ambil pelajaran bahwa "Alam adalah sahabat Kita". Jadi, alam harus tetap kita jaga keindahannya dan berhentilah untuk merusaknya. Go Green !!. (Rikas Driwari)***

Friday, July 1, 2011

Mojang and Jajaka (Sunda: Girl and Boy) Portray Lutung Kasarung

ANTARAJAWABARAT,com, 18/6 – Mojang and Jajaka (Sunda: Girl and Boy) West Java 2011 try to act portraying typical West Java musical drama as “Lutung Kasarung” held colossally in West Java Cultural Park (Taman Budaya Jawa Barat), 28 October-6 November 2011.
“Musical drama show Lutung Kasarung is one of pilot project in West Java to encourage mojang and jajaka entering real tourism industry,” said West Java vice governor H Dede Yusuf in Bandung, Saturday.
According to Dede, Lutung Kasarung show is one of penetration to youth to be active, not only in merely formal and ceremonial, but also in real world as artist and tourism industrialist.
“‘Moka-moka’ that never dance before would be prepared for the next four months, so they could play their role well,” said Dede Yusuf.
The show is supported by Yayasan Prima Ardian Tana and Saung Angklung Udjo Bandung, would be presented by 100 players consist of West Java Mojang and Jajaka member that has passed test and audition, dancing and casting.
The show would feature local culture, it is acting art colaboration, dancing and singing.
The show would be presented in September 2011 directed by Didi Petet, scenario Eddy D Iskandar and music arrangement Ismet Ruchimat from Samba Sunda.
Lutung Kasarung scenario is a pantun (traditional poetry), talked Sundanese legend about journey of Sanghyang Guruminda from Kahyangan dropped to Buana Panca Tengah (Earth) as a lutung (like monkey).
In his journey, lutung meet with Purbasari Ayuwangi Princess rejected by her evil sister, Purbararang.
Lutung Kasarung is a beast, eventually turn into a prince marry to Purbasari, and rule kingdom in Pasir Batang and Cupu Mandala Ayu kingdom.
“The story contains local philosophy with many morality values in the naration. Two moral values is negative effect from looking down someone as bad and forgiving as good,” said scenario writer Eddy D Iskandar.
At the meanwhile, Loetoeng Kasaroeng is the first film in Indonesia released in 1926 by NV Java Film Company directed by G Kruger and L Heuveldorp.
“After 90 years, it is hoped that Lutung Kasarung which is presented by recent concept could go international. I hope in 2012 Lutung Kasarung could make a show at X-Planet Singapore and other countries,” said Dede Yusuf added.***6***
(S033)



Saturday, June 25, 2011

Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta


Pasar Beringharjo masih menjadi tujuan utama berbelanja buat mereka yang bertandang ke Yogyakarta. Meski di Jalan Malioboro juga terdapat banyak toko batik dan suvenir, tetapi mereka masih belum dapat menandingi pasar Beringharjo.
Pada akhir pekan, lorong-lorong penjual batik di lantai dasar pasar ini pasti akan penuh sesak. Anda harus siap berdesakan dengan penjaja batik yang menawarkan dagangannya  juga dengan dua arus pengunjung yang berbelanja di lorong-lorong sempit itu.

Di pasar ini, Anda bisa berbelanja mulai dari batik yang sudah jadi (baik dalam bentuk kain, cap maupun tulis). Beragam motif batik seperti Lasem, Madura, Bantul juga tersedia. Bahkan pakaian santai, daster, celana longgar, sampai gaun-gaun dan kemeja batik resmi juga dapat dicari.
Salah satu tempat yang bisa jadi pilihan adalah gerai batik Soenardi. Mereka punya dua los di lantai dasar pasar ini; satu di sebelah selatan pasar dan satu lagi di utara. Kedua los itu menyediakan koleksi yang berbeda. Kain-kain batik tulis dijual seharga Rp 110 ribu, sementara cap dijual mulai dari Rp 70 ribuan.

Jika Anda ingin mencari batik khas Bantul (yang selalu berwarna coklat tua dengan sisa kain dibiarkan putih), ada sebuah kios yang khusus berjualan itu. Sayangnya, kios ini tidak bernama atau bernomor. Untuk mendapatkan kios ini, masuklah dari pintu utama pasar di bagian depan lalu belok kiri di lorong kelima. Kios batik khas Bantul akan ada di sisi kiri Anda, dijaga oleh dua ibu tua yang berkebaya, kain dan sanggul.
Anda tinggal memilih dari beragam motif klasik seperti sidomukti, kawung, parang dan galaran. Per lembar kain batik dijual seharga Rp 65 ribu. Penjual batik khas Bantul dengan bangga mengatakan, mereka tidak menjual batik cap di kios mereka.

Di lantai tiga pasar, Anda akan menemukan tas-tas anyaman dari eceng gondok. Desain dan pewarnaannya pun cukup modern serta bergaya. Tas kecil yang bisa memuat dompet dan telepon genggam serta pernak-pernik lain sudah bisa Anda dapatkan dengan harga Rp 15 ribu.
Jika barang antik adalah minat Anda, berjalanlah ke bagian utara pasar. Koin uang kuno (benggol) juga dijual per paket mulai dari Rp 15 ribu, tergantung kelangkaannya. Di sana, pernik dapur seperti penggiling kopi pun bisa Anda dapatkan dengan harga murah. Selain itu, masih ada rempah-rempah kering, berbagai macam jamu, beragam aksesoris baju pengantin, sampai penganan seperti cendol dan sate gajih (lemak) yang harumnya menyebar di lorong-lorong pasar.
Pasar Beringharjo sebenarnya bukan hanya soal berbelanja, tapi juga manusia-manusia di dalamnya. Salah satu yang paling mengesankan (sekaligus membuat terenyuh) adalah para penjaja jasa gendong belanjaan atau mbok-mbok gendong yang berusia renta (60 tahun ke atas). Anda bisa mengenali mereka dari selendang yang tersampir di salah satu bahu. Mereka juga kadang akan mendekati Anda untuk menawarkan jasa menggendong atau memanggul dengan imbalan beberapa ribu rupiah saja. 

Sumber : Yahoo Travel

Wednesday, June 22, 2011

Jam Gadang Kebanggaan Kota Padang


Penjajahan Belanda di Indonesia meninggalkan jejaknya di Bukittinggi. Kenang-kenangan itu berupa Jam Gadang yang menjadi ciri khas kota. Jam ini dibangun pada 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota. Hingga kini menara Jam Gadang masih menjadi bangunan tertinggi di Bukittinggi.
Jam Gadang dilengkapi lonceng besar di bagian atasnya. Di lonceng itu tertera pabrik pembuat jam: “Vortmann Relinghausen, I.W Germany”. Vortman adalah nama belakang pembuat jam ini, Benhard Vortmann. Recklinghausen adalah nama kota tempat mesin jam diproduksi di Jerman pada 1892.Karena uniknya mesin jam ini, tidak ada montir yang bisa memperbaiki. “Jadi kalau rusak atau macet, kami perbaiki sendiri,” kata Yusrizal, satu dari empat petugas penjaga jam.Para penjaga tak pernah belajar memperbaiki mesin jam secara formal. Pengetahuan teknis mengenai jam ini diajarkan secara turun-temurun dan terbukti berhasil karena kerusakan kecil pada jam selalu berhasil diperbaiki oleh mereka.
“Kecuali saat gempa tahun 2007. Bandul jam sempat patah dan harus diganti,” kata Andre, petugas jaga yang lain. Gempa di Padang tahun 2010 juga membuat dinding menara retak, namun tak merusak mesin jam.
Andre dan Yusrizal sedang bertugas jaga siang, bergantian dengan dua orang petugas yang akan berjaga pada malam hari. Empat orang itulah yang melakukan seluruh pemeliharaan. Mereka bertugas merawat jam, menjaga keamanan, hingga menyapu lantai. Kecuali telah mendapatkan izin, pengunjung dilarang memasuki bagian dalam menara.

Bagian dalam menara terdiri dari beberapa tingkat. Tingkat paling atas adalah tempat penyimpanan lonceng. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah. Menaiki tangga kecil ke atas cukup menguras tenaga. Tetapi perjuangan menaiki anak tangga itu tentunya. Dari atas menara, tampaklah kota yang dikeliligi tiga gunung: Singgalang, Merapi dan Sago.

Jam Gadang menjadi pusat penanda kota Bukittinggi. Acara-acara kota biasanya diselenggarakan di lapangan dekat menara ini. Salah satunya sebagai titik dimulainya etape ke-4 Tour de Singkarak pada 9 Juni 2011.Tempat ini juga menjadi ruang interaksi favorit warga. Pada hari kerja pun lapangan di sekitar Jam Gadang tampak ramai. Anak-anak berlarian dan bermain dengan gelembung sabun, sementara orangtua mereka duduk-duduk di keteduhan. Sebuah ruang publik gratis yang seharusnya ada di setiap kota di Indonesia.

Sumber : Yahoo Travel

Monday, June 13, 2011

Wisata Kawah Gunung Galunggung


PENGUNJUNG tempat wisata alam selama musim lebaran ini menukik tajam. Di gunung Galunggung, umpamanya, dikabarkan jumlah pengunjung melorot dibanding tahun lalu. Usut punya usut, isu kawah retak jadi biangnya.
Pedagang makanan dan suvenir mengeluh, penghasilan mereka terkena imbas. Sudah tentu pundi-pundi Pemkab Kabupaten Tasikmalaya turut surut. Diduga kuat, menurunnya wisatawan ke Gunung Galunggung, lantaran isu kawah retak itu. Paling tidak, itulah hasil penelusuran wartawan.
Informasi tentang retaknya kawah, ternyata sama sekali tidak benar. Kondisi gunung Galunggung baik-baik saja. Dampak gempa tempo lalu tidak merusak fasilitas vital tempat wisata yang sudah dikenal sejak kakek buyut itu.
Sayang, kabar burung tentang kawah retak, sama sekali tidak diantisipasi dengan tanggap dan cepat. Akhirnya, kabar itu merebak dan menyurutkan niat orang yang -- bisa jadi -- sudah mempersiapkan jauh-jauh hari.
Jangankan merespon peristiwa tak terduga, seperti gempa tempo lalu. Hari-hari biasa pun, upaya promosi wisata masih lemah. Kondisinya semakin diperparah dengan pemeliharaan fasilitas yang setengah hati. Lengkaplah sudah, ruang-ruang yang membuat geliat wisata yang dikelola pemerintah jalan di tempat. Digarap seadanya, tanpa polesan. Kalah langkah oleh pengelola swasta yang mendesain suasana pantai di tengah kota.
Waterboom di Kota Tasikmalaya, tempo lalu diserbu pengunjung, meskipun belum sebulan diresmikan. Kreativitas pengelola, ide-ide segar menjadi kekuatan tak terabaikan di sektor hiburan dan dunia kontemporer lain. Bila menganggap remeh perkara ini, bersiap-siaplah gulung tikar. Informasi bisa menyesatkan banyak orang. Isu bisa jadi benar, bisa pula cuma isapan jempol yang dihembuskan.
Tampaknya, pengelolaan wisata di Priangan Timur, harus mulai mencermati kekuatan informasi yang selama ini terkesan digarap tidak serius. Tempat wisata yang terkenal eksotik, Pangandaran pun dikabarkan surut pengunjung. Lagi-lagi, isu gempa menjadi biangnya. Isu tsunami, menggelinding ke segala penjuru angin, tanpa bisa dibendung. Pemda perlu belajar banyak dari pengelola wisata swasta. Dikelola segelintir orang, namun mampu menyedot perhatian, hasilnya maksimal. Promosi pun tidak cukup dengan memasang iklan di media, namun perlu diperkuat dengan sosialisasi program yang terkonsep dengan matang.
Apakah perlu, menyerahkan pengelolaan wisata sepenuhnya kepada pihak swasta?

Wednesday, March 2, 2011

Rekreasi ke Mzaar Sky Resort Faraya Beirut, Lebanon

 
Kedutaan Besar RI di Lebanon

 
Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

 
Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

 
Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

 
Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

 
Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

 
Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

 
Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

Mzaar Sky Resort Faraya Beirut
 Mzaar Sky Resort Faraya Beirut

Tempat Ski Mzaar di Faraya Beirut (Mzaar Sky Resort)

        
Welfare Trip? wah itu waktu yang ditunggu-tunggu untuk menghilangkan kejenuhan disela-sela sibuknya kegiatan kami. Waktu menunjukkan jam 4.30 hrs 19 Feb 2011 waktu Lebanon selatan, kami mempersiapkan sgala perlengkapan untuk melaksanakan welfare yang diberikan kepada kami. Ini sebuah kesejahteraan yang teramat berharga dan langka, tidak semua personel bisa melakukannya.Kapan lagi bisa berlibur? itu yang tersirat di benak kami.
Tujuan utama kami adalah Mzaar ski resort, berjarak 250 Km dari Blate. Dengan menempuh perjalanan selama 2,5 jam baru bisa melihat indahnya salju di Mzaar Faraya. Bagi yang menggunakan kendaraan besar tidak bisa masuk lokasi, ya terpaksa deh naik angkutan hehhe..jangan kuatir disediakan kok, cukup 2000 liban atau 1,5 US dolar aja bisa nyampe ke puncak Faraya (Mzaar Sky Resort), jangan kuatir penduduk disini ramah-ramah kok..."Welcome to Lebanon, Welcome to Lebanon" itu yg saya ingat kata2 seorang pemuda di Faraya. Disini tersedia tempat penyewaan Skyboat kira2 80 US dolar, pakaian sky 15 US dolar dan kalo yang tidak suka maen sky  .. ya jalan2 aja Gratis kok..hehehe
Suhu di Faraya mencapai 4 derajat celcius, lumayan untuk membekukan badan kita...makanya kalo ke sini persiapan baju hangat ...alias baju tebal ! hehehe


(Reviewed by Purcep Blate South Lebanon 2nd March 2011)




Tuesday, February 22, 2011

Sate Ayam Kota Marjayoun South Lebanon

Marjayoun, Marjayoun tidak terasa kami berada di Lebanon selatan sudah mendekati 4 bulan...waktu setahun bukanlah waktu yang pendek...bagi keluarga kami. Tapi kami tetap bangga dan semangat demi Perdamaian di Lebanon dan demi harumnya Merah putih.....Lihatlah Merah Putihku berkibar di lebanon teman-teman. Kami kesini membawa misi yang sangat mulia, dan jangan di beri tinta kotor di hati Kami. Banyak orang membicarakan kota perbatasan ini. Bagi pribumi kota ini banyak sekali rahasia dan mistery dari yang menyenangkan sampai dengan yang menyedihkan. Udah deh jangan di ulas lagi tentang kesedihan dan kenangan pahit yang pernah terjadi beberapa tahun silam. Cukup kami-kami saja yang tahu dan warga pribumi kota ini, jangan ditambah kesedihan dan kekhawatiran..hehehehhe...Kota yang terletak di Lebanon selatan ini kelihatannya sepi tapi di kota ini rekan2 semua bisa menjumpai beberapa makanan khas yang sangat lezat.






 
Kalo kita tempuh dengan kendaraan mungkin butuh waktu sekitar 2.5 jam dari Bandara RHIA Beirut. Kalo dengan kantong sendiri anda perlu mengeluarkan uang sekitar 675 US Dolar untuk tiket PP Jakarta – Beirut. Sepanjang perjalanan dari Beirut ke Marjayoun mungkin Anda akan melihat pemandangan yang tidak pernah anda jumpai di Indonesia. Penasaran? .  Jangan Kaget di lebanon hampir semua rumah tanpa beratapkan genting, semua beton dan batu marmer. Hebat bukan? Dan Anda tidak akan menjumpai pohon yang besar2 seperti di Indonesia. 

  

Tapi disini seperti bukit2 yang berwarna hijau kayak karpet, kenapa begitu? Hehehe..karena di setiap lahan kosong tumbuh tanaman Gandum dan Pohon Zaitun.  



Pertama kali makan kami sangat asing, tapi rasanya hampir sama dengan masakan Indonesia. Tapi setelah berbulan-bulan kami tinggal dan beradaptasi di Majayoun kami sangat menyukainya. Sate Marjayoun salah satu jenis makanan favorit kami. Sate ini tidak lain adalah sate ayam yang ditusuk dengan tusukan yang sangat besar2 ukurannya,  yang terbuat dari besi. Mungkin agak aneh bagi orang Indonesia, tapi itulah di sini kenyataannya. Mau tau rasanya? Ya kesini aja hehehe Gabung di Compound kami....hehhe.


(Reviewed by Purcep, Blate South Lebanon 22 February 2011)

Monday, February 21, 2011

Makanan Khas Kota Marjayoun, South Lebanon

Kami berada di Blate Marjayoun sudah hampir empat bulan lamanya, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat kami meninggalkan keluarga kami tercinta di indonesia. Hanya Untuk sebuah Misi? ya itulah kami demi tegaknya suatu Perdamaian.
Tiap waktu disibukkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari Escort, Investigasi dan Control Point. 

"Kami yakin Tuhan pasti beserta kita..." itulah salah satu cuplikan lagu Penyemangat kami.
Suatu hari kami menghadiri makan siang bersama di sebuah tempat di Marjayoun, South Lebanon. Hanya dengan beberapa menit saja melewati Pos Laf, arah Khiam. Hari itu hari Sabtu kira2 pukul 11.00 Hrs, sungguh terkejut kami melihat makanan yang di sediakan di meja makan. Terasa asing makanan itu, tapi setelah kami coba...wow lezaaaaaaaaaaaat buanget Bos...







(Reviewed by Purcep, Blate 21 February 2011)

Wednesday, February 2, 2011

Penangkaran Kupu-Kupu di Bantimurung Sulawesi Selatan

“Banting saja kemurunganmu di Bantimurung,” seluroh kawan saya saat kami berbicara mengenai obyek wisata andalan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jaraknya lebih kurang 45 km dari Kota Makassar.

Dan memang benar, selama saya melewatkan masa SMA di Maros dulu (1986-1989), Bantimurung menjadi pilihan berwisata bagi kami sekeluarga dan teman-teman sekolah. Selain memang tempatnya dekat, air terjun serta obyek wisata lain yang ada di sekitarnya menawarkan keindahan. Kemurungan itu rasanya bagai terbanting. Dari pusat kota Maros, Bantimurung sudah dapat dijangkau dengan waktu lebih kurang 20 menit dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum.

Secara geografis objek wisata Bantimurung memiliki luas wilayah mencapai 6.619,11 km2 Memasuki kawasan ini, kita akan disambut oleh sebuah gapura besar dengan kupu-kupu raksasa, diikuti patung kera berukuran jumbo. Ini menandakan Bantimurung merupakan habitat asli kupu-kupu dan kera.
Air terjun jatuh perlahan melalui batu cadas dari ketinggian 15 meter dan lebar 20 meter menyajikan nuansa alam yang khas. Selain pemandangan alam yang indah, air terjun ini juga dimanfaatkan oleh pengunjung untuk kegiatan mandi atau sekadar untuk merasakan percikan sejuk air pegunungan.

Di sekitar air terjun, terdapat cekungan-cekungan sungai yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk berenang. Di sebelah kiri air terjun terdapat jalan wisata dan tempat duduk permanen yang membatasi jalan dengan sungai, terusan dari air terjun. Biasanya pengunjung yang datang sekadar mengabadikan gambar panorama air terjun. Di sebelah kanan air terjun, terdapat areal yang cukup landai untuk berkumpul bersama keluarga dengan menggelar tikar sambil menikmati pemandangan. Pengunjung juga bisa duduk di bawah pepohonan rindang atau mandi di air terjun.
Taman Wisata Alam Bantimurung secara umum bergelombang sampai berbukit-bukit. Batuan kapur membentuk bebukitan terjal di kanan kiri sungai. Daerah datar terletak di bagian selatan, tempat terdapatnya air terjun dan kolam. Daerah datar lainnya yang mempunyai panorama cukup menarik terletak di bagian utara taman wisata alam, dapat ditempuh melalui jalan setapak dari air terjun. Vegetasi yang terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung adalah tipe hutan hujan pegunungan yang didominasi oleh famili Liniaceae, antara lain; jambu hujan (Eugenia sp), jabon (Anthocepalus cadamba), pala-pala (Mangifera sp), enau (Arenga pinnata), centana (Pterocarpus indicus) dan lain-lain.

Selain menikmati pesona air terjun Bantimurung, terdapat objek wisata lain di sekitar kawasan ini yakni goa mimpi dan goa batu. Goa Mimpi merupakan salah satu tempat yang digemari. Di dalam goa terdapat stalaktit (relief batu yang terbentuk dari tetesan air dan menggantung di atas langit-langit goa) indah dengan kumpulan kristal. Bening dan mampu memantulkan cahaya. Di sekelilingnya diterangi lampu sehingga memperindah suasana dalam goa. Inilah yang membuatnya disebut goa mimpi karena ketika berada di dalamnya, kita seakan-akan berada dalam mimpi.
Untuk menuju Goa Batu dibutuhkan stamina yang prima meskipun pengelola sudah membuatkan anak tangga setinggi 10 meter. Perjalanannya cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 menit. Namun setelah tiba, segala kelelahan segera terbayar dengan pemandangan indah serta air terjun kecil yang begitu asri. Belum lagi keindahan di dalam goa dengan stalaktit dan stalagmite sepanjang lorong 30 meter.
Pada 1856 – 1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di Indonesia untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu, termasuk kupu-kupu Bantimurung. Menurut Wallace, Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly karena ditemukan beragam spesies kupu-kupu langka yang jarang terdapat di daerah lain. Berbagai jenis kupu-kupu yang terdapat di kawasan tersebut antara lain dari family Saturnidae, Nocturnidae, Spingidae dan Nyphalidae. Jenis kupu-kupu tersebut menurut para ahli hanya terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung. Menurut Matimu (1977) dan Achmad (1998) dalam Buku Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (2006), terdapat 103 jenis kupu-kupu yang ditemukan di sana, dan sebaran kupu-kupu jenis komersil seperti Troides haliptron dan Papilio blumei adalah dua jenis endemik yang mempunyai sebaran sangat sempit, yaitu hanya pada habitat berhutan di pinggiran sungai.

Untuk menjaga kupu-kupu dari kepunahan, pemerintah setempat membuat penangkaran di lokasi ini, dan tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung. Selain penangkaran, ada juga museum kupu-kupu sebagai informasi dan pusat data kupu-kupu yang hidup di alam Bantimurung. Sebelum pulang jangan lupa untuk membeli oleh-oleh kupu-kupu indah Bantimurung yang sudah diawetkan dalam bingkai kaca dengan jumlah variatif. Oleh-oleh ini bisa dipajang di dinding rumah sebagai kenangan dan tanda bahwa Anda sudah mengunjungi “Kerajaan Kupu-Kupu” di Bantimurung.
Untuk menikmati kesejukan dan keindahan Bantimurung, pengunjung cukup membayar retribusi karcis sebesar Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 3500 bagi anak-anak. Bagi Anda yang ingin berlama-lama di sini, tersedia fasilitas penginapan dengan kisaran harga antara Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu plus fasilitas televisi di dalamnya.

(Reviewed by Purcep, Blate South Lebanon 02nd February 2011)

Sunday, November 28, 2010

Cipanas Galunggung Tasikmalaya

Kabupaten Tasikmalaya; Pasca bencana alam gempa bumi pada 2 September 2009 lalu, bahkan banyak di antara korban yang masih berada di penampungan pengungsian, ternyata minat wisatawan berkunjung ke objek wisata Cipanas dan Kawah Galunggung tak pernah surut di hari raya Idhul Fitri ini. Wisatawan yang berkunjung umumnya adalah para pemudik yang berasal dari berbagai daerah, terutama Jabodetabek. 


   
Buktinya, hari kedua dan ketiga Lebaran, ribuan wisatawan memadati kawasan objek wisata pemandian air panas yang berada di kaki Gunung Galunggung, sekitar 2 km dari kawah. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat pun menambah kemacetan di kawasan primadona pariwisata Kabupaten Tasikmalaya. “Pada hari pertama Lebaran, wisatawan kurang begitu banyak, karena mereka memilih kumpul bersama keluarga untuk bersilaturahmi,” ujar Karsidik wartawan Buser Trans melaporkan untuk KabarIndonesia.
    
“Kalau mudik ke Tasik tidak rekreasi  dulu bersama keluarga  ke objek Cipanas atau Kawah Galunggung, rasanya kurang klop. Walaupun 2 September dilanda gempa, kami tetap ingin menikmati suasana pemandian air panas ini,”ungkap Ririn (24) warga Singaparna.


Ririn dan keluarganya mengaku tidak khawatir akan terjadi gempa lagi. “Tapi, kami tetap saja waspada, dan tidak berani menaiki Puncak Kawah Gunung Galunggung seperti pada Lebaran tahun lalu,” tuturnya.    

Ada larangan memang dari petugas agar wisatawan tidak melanjutkan wisatanya ke puncak Kawah Gunung Galunggung, karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, mengingat bibir kawah gunung sepanjang 350 meter dan lebar 05 cm mengalami keretakan.    

Namun berdasarkan pemantauan KabarIndonesia, wisatawan yang mendaki puncak Kawah Gunung Galunggung masih tetap banyak, jumlahnya ribuan hingga memadati bibir kawah.Larangan dari petugas seolah tidak dihiraukan. Bahkan mereka ada yang penasaran ingin membuktikan bahwa kawah gunung ini retak sebagaimana diberikan media. “Saya ingin tahu, benar-tidaknya kawah Gunung Galunggung ini retak,” ucap Rizki, pemudik dari Tangerang.

Dengan membludaknya kunjungan wisatawan ke objek wisata Cipanas Galunggung, tentu saja membawa berkah bagi Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya, para pedagang makanan atau souvenir, petugas tiket, petugas keamanan dan petugas parkir.

“Jika tidak ada gempa sebelumnya, maka jumlah wisatawan ke objek wisata Cipanas maupun puncak Kawah Gunung Galunggung, tentu saja akan membludak. Karena para pemudik akan penasaran jika mudik tidak berwisata ke sini bersama keluarga,” ungkap Ajat, petugas parkir.
  
Dia mengaku, jumlah wisatawan pasca gempa memang ada penurunan yang cukup kentara, mungkin para pemudik merasa khawatir akan terjadi gempa bumi pada saat berada di kawasan sekitar kaki Gunung Galunggung.
       
Dengan tariff karcis yang relative murah, yakni Rp 4.250/orang, maka wisatawan dapat menikmati pemandian air panas di Cipanas Galunggung sepuasnya; berenang maupun berendam. Juga menikmati panorama alam yang indah mempesona.(*)

Situ Lengkong di Panjalu Tasikmalaya


POTENSI HISTORIS
Berdasarkan kisah lisa yang beredar di kalangan masyarakat Panjalu, Situ Lengkong terbentuk sebagai bagian dari proses pengislaman yang dirintis Prabu Borosngora, anak kedua dari Prabu Sanghyang Tjakradewa.
Dalam Babad Panjalu, Prabu Borosngora disebut sebagai buyut Sanghyang Ratu Permanadewi, Ratu Kerajaan Soko Galuh yang membawa ajaran karahayuan (kemakmuran). Karena dipimpin seorang wanita, untuk menunjukkan maskulinitas, maka kerajaan tersebut dinamakan Kerajaan Panjalu. Dalam bahasa Sunda, berarti laki-laki.
Kerajaan Panjalu pernah kuat dan besar dan menjadi bagian Kesultanan Cirebon sampai akhirnya menjadi kabupaten. Wilayahnya kemudian digabung dengan Kabupaten Imbanagara dan Kawali sehingga menjadi Kabupaten Ciamis sekarang.
Daya tarik Panjalu dari segi historis adalah upacara nyangku. Diselenggarakan setiap tahun pada hari Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud. Nyangku berasal dari bahasa Arab yanko artinya: membersihkan. Dalam upacara tersebut, pedang hadiah dari Sayidina Ali dan barang pusaka lainnya seperti keris, dan tombak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit untuk dibersihkan. Prosesi dilanjutkan dengan membawa barang pusaka ke Nusalarang, lalu kembali ke balai desa untuk dibersihkan. Menjelang tengah hari, barang pusaka disimpan kembali ke tempat asalnya, Bumi Alit. Bagi masyarakat Panjalu, nyangku memiliki makna yang lebih luas. Dan sesuai dengan ajaran leluhur mereka, setiap langkah dalam upacara tersebut memiliki makna tersendiri yang bertujuan meningkatkan kebahagiaan lahir-batin keturunan Panjalu.
Kepada anak-cucunya, Raja Panjalu mewariskan papagon atau ajaran yang antara lain berbunyi; ”Pakena gawe rahayu dan pakena kreta bener” dan ”mangan karna halal, pake karna suci, ucap lampah sabenere,”. ”Hingga kini ajaran tersebut dipegang teguh oleh mereka yang merasa sebagai keturunan Panjalu meskipun sudah menetap jauh di luar Panjalu. Salah satu sesepuh Panjalu yang dipandang sebagai pemimpin adat Panjalu adalah Bah Atong, keturunan ke-14 Prabu Borosngora.



POTENSI PELESTARIAN LINGKUNGAN
Di tengah situ lengkong terdapat pulau seluas sekitar 16 hektar. Pulau Nusa Larang. Pulau ini ditetapkan sebagai cagar alam sejak tanggal 21 Februari 1919. Pulau ini sering juga disebut Pulau Koorders. Nama ini adalah sebagai penghargaan kepada Dr Koorders, seorang kebangsaan Belanda pendiri dan sekaligus ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming, sebuah perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863.
Sebagai seseorang yang menaruh perhatian besar pada botani, Koorders telah memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau Jawa. Pekerjaan mengumpulkan herbarium tersebut dilakukan bersama Th Valeton, seorang ahli botani yang membantu melakukan penelitian ilmiah komposisi hutan tropika.
Koorders dan rekannya akhirnya berhasil memberikan sumbangan yang tidak kecil pada dunia ilmu pengetahuan. Berkat kerja kerasnya, kemudian lahir bukunya, Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java, sebuah buku yang merupakan sumbangan pengetahuan tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.
Sebagai cagar alam, Nusalarang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh alami. Wisatawan yang berkunjung ke sana bisa menikmati berbagai jenis flora, antara lain kondang (Ficus variegata), kileho (Sauraula Sp), dan kihaji (Dysoxylum). Di bagian bawahnya tumbuh tanaman rotan (Calamus Sp), tepus (Zingiberaceae), dan langkap (Arenga).
Sedangkan fauna yang hidup di pulau tersebut antara lain tupai (Calosciurus nigrittatus), burung hantu (Otus scops), dan kalong (Pteropus vampyrus). Belakangan, populasi kalong di daerah itu bertambah dengan berdatangannya kawanan kalong dari Astana Gede Kawali, situs yang terletak di Kecamatan Kawali, enam kilometer arah utara Kota Ciamis. Selama ini situs tersebut dianggap sebagai pusat Kerajaan Galuh. Kawanan kalong yang bersarang di situs tersebut dikabarkan sudah lebih dulu hijrah ke Situ Lengkong, jauh sebelum terjadi bencana angin ribut melanda situs Astana Gede Kawali. Situs Astana Gede Kawali dipercaya mempunyai hubungan sejarah dengan situs Panjalu di Nusalarang. Kalong yang pulang pergi dari Nusalarang dan Gede Kawali dalam kepercayaan yang beredar adalah penjelmaan dari pasukan Borosngora.
POTENSI WISATA RELIGI
Situ Lengkong Panjalu berdasar sejarahnya merupakan situ yang terbentuk dari hal yang mistis. Situ ini berasal dari air zamzam pemberian Sayyidina Ali yang dibawa Pabu Borosngora sepulang dari belajar Islam ke Mekah.  Ketika air zamzam ditumpahkan ke atas cekungan tanah maka muncullah sumber air yang makin membesar hingga menjadi sebuah situ. Dan ditengahnya terbentuk pulau yang kemudian dijadikan tempat pemakaman keluarga keturunan Prabu Borosngora. Karenanya pulau itu dikeramatkan dan disebut Pulau Nusa Larang. Borosngora sendiri tidak dimakamkan  di tempat ini. Beliau hilang entah dimana. Setelah Islam berkembang di Panjalu beliau pergi pamit untuk menyebarkan Islam di daerah lain. Banyak yang beranggapan bahwa beliau akhirnya menetap di Kawali. Beliau dapat menjelma menjadi harimau putih yang melindungi.
Kini Situ Panjalu menjadi bagian dari rangkaian Ziarah para wali umat Islam. Air situ dipercaya membawa berkah karena asalnya adalah air zamzam. Lokasinya yang termasuk strategis bisa dicapai melalui berbagai arah. Baik dari Cirebon-Ciamis melalui Kuningan maupun dari Bandung-Tasikmalaya melalui Malangbong. Dari Kota Ciamis yang menjadi ibu kota kabupaten, jaraknya hanya sekitar 15 km.

Situ Gede Tasikmalaya

  1. Situ Gede
  2. undefined
    1. Sekilas Objek Wisata
    2. Salah satu sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal yang dapat diandalkan untuk pembangunan perekonomian masyarakat Kota Tasikmalaya adalah objek wisata situ gede yang terletak dikelurahan Linggajaya dan Mangkubumi Kecamatan Mangkubumi. Situ Gede merupakan sebuah danau seluas 47 Ha dengan kedalaman air antara 1,5 s.d. 6 meter. Ditengah-tengah terdapat sebuah pulau dengan luas 1 Ha, dipulau ini dimakamkan Eyang Prabudilaya yang legendanya berkembang di masyarakat Kota Tasikmalaya, letak situ gede relatif dekat dengan pusat Kota Tasikmalaya, kuang lebih+4 km. Fasilitas bagi wisatawan adalah gazebo 7 buah, tempat parkir cukup luas, masjid, MCK, rakit, tempat memancing, taman dan camping ground. Aktivitas para wisatawan yang dapat dilakukan adalah joging, memancing, menjala ikan, mengelilingi pulau dengan rakit, menikmati pemandangan alam dengan nuansa pedesaan yang sejuk dan segar, menikmati bakar dan goreng ikan dikios-kios sekitar objek wisata, serta ziarah ke pulau situ gede.
    3. Prospek Pasar
    4. Prospek Wisata Alam Situ Gede merupakan salah satu objek wisata alam yang ada di Kota Tasikmalaya dengan jarak relatif dekat dengan pusat kota.
    5. Rata-rata Tingkat Kunjungan : 9.950 orang/tahun.
  3. Taman Rekreasi Mangkubumi Indah
  4. Objek wisata ini terletak di Jl. A.H. Nasution / Singaparna, kurang lebih 6 km dari pusat kota. kondisi alamnya yang sejuk dan alami membuat suasana tenang untuk para pengunjung, taman rekreasi ini dilengkapi kolam renang, panggung hiburan, hotel restoran, kantin, area bermain anak-anak, sepeda air, gazebo, mushola dan gedung pertemuan serta are parkir yang luas. Taman rekreasi kurang lebih 5 Ha. Rata-rata tingkat kunjungan wisatawan 42.260 orang/tahun.
  1. Taman Rekreasi Mutiara Sukamulya (Aboh)
  2. Taman rekreasi ini terletak di Jl. Sukamulya/Aboh lebih kurang 400m dari gedung Bale Kota Tasikmalaya, kondisi dilingkungannya yang bersih dan asri membuat nyaman bagi pengunjung yang daang. Adapun fasilitas yang ada yaitu : Kolam renang untuk balita, anak-anak dan dewasa, arena bermain anak, mesin ketangkasan, sepeda air, kantin, gazebo, mushola serta koleksi binatang pribadi yang khas. Rata-rata tingkat kunjungan wisata Aboh adalah 105.250 orang/tahun.
  3. Makam Syeh Abdul Ghorib
  4. Tempat wisata ziarah ini merupakan makam penyebar agama Islam, kondisi lingkungannya yang sejuk dan alami jauh dari kebisingan membuat suasana peziarah tenang dalam melakukan ziarah. Lokasinya terletak di kampung Cibeas kelurahan gunung Tandala/Gunung Gede Kecamatan Kawalu. Tingkat pengunjung peziarah 1024 orang/tahun.

Saturday, November 27, 2010

Mendut Tample

Mendut Tample

undefined
The ruins of Mendut temple before restoration, 1880.
Built around early ninth century AD, Mendut is the oldest of the three temples including Pawon and Borobudur. The Karang Tengah inscription, the temple was built and finished during the reign of King Indra of Sailendra dynasty. The inscription dated 824 AD mentioned that King Indra of Sailendra has built a sacred building named Venuvana which means "bamboo forest". Dutch archaeologist JG de Casparis has connected the temple mentioned in Karang Tengah inscription with Mendut temple
In 1836 it was discovered as a ruins covered with bushes. The restoration of this temple was started at 1897 and it was finished at 1925. Some archaeologists who had conducted research on this temple were JG de Casparis, Theodoor van Erp, and Arisatya Yogaswara.

Architecture

undefined
The statue of Dhyani Buddha Vairocana, Avalokitesvara, and Vajrapani inside the Mendut temple
The 26.4 metres tall temple is facing northwest. The stairs projecting from the northwest side square elevated base is adorned with Makara statue on each sides, the side of the stairwall carved with bas-relief of fablepradakshina or circumambulating ritual, walking clockwise around the temple. The outer walls is adorned with bas-reliefs of Boddhisattvas (buddhist divinities), such as Avalokitesvara, Maitreya, Cunda, Ksitigarbha, Samantabhadra, Mahakarunika Avalokitesvara, Vajrapani, Manjusri, Akasagarbha, and Boddhisattvadevi Prajnaparamita among other buddhist figures. Originally the temple had two chambers, a small chamber in the front, and the large main chamber in the center. The roof and some parts of the front chamber walls are missing. The inner wall of front chamber is adorned with bas-relief of Hariti surrounds by children, Atavaka on the other side, Kalpataru, also groups of devatas divinities flying in heaven. narrating the animal story of buddhist teaching. The square terrace surrounding the body of the temple was meant for 


Location three Buddhist temples, Borobudur-Pawon-Mendut, in one straight line.
The main room housed three beautifully carved large stone statues. The three statues are the Buddhist main divinities revered in Mendut temple which can explain the spiritual purpose of the establishment of this temple. The 3 metres tall statue of Dhyani Buddha Vairocana was meant to liberate the devotees from the bodily karma, at the left is statue of Boddhisatva Avalokitesvara to liberate from the karma of speech, at the right is Boddhisatva Vajrapani to liberate from karma of thought.
Today, during the full moon in May or June, Buddhists in Indonesia observe Vesak annual ritual by walking from Mendut passing through Pawon and ends at Borobudur.

Sewu Temple

Sewu is an 8th-century Buddhist temple located 800 meters north of Prambanan in Central Java. Candi Sewu is actually the second largest Buddhist Temple in Central Java after Borobudur. Candi Sewu predates "Loro Jonggrang". Although originally only around 257 temples are present, the name in Javanese translates to 'a thousand temples,' which originated from popular local folklore; The Legend of Loro Jonggrang. The original name of this temple compound is probably Manjusrigrha.


Sewu main temple before reconstruction.

Based on the inscription from 792 AD which was found in 1960, the original name of the temple complex was probably “Manjus’ri grha” (The House of Manjusri). Manjusri is a Boddhisatva in Buddhist teaching. Sewu Temple was probably built in the 8th century at the end of Rakai Panangkaran administration. Rakai Panangkaran (746 – 784 AD) was a popular King from the Mataram Kingdom. The temple was probably expanded and completed during Rakai Pikatan's rule, a Sanjaya dynasty prince whom married to a Buddhist princess of Sailendra dynasty, Pramodhawardhani. Most of his subjects retained their old religion after the return of Sanjaya dynasty. The proximity of the temple to Prambanan Temple which is a Hindu Temple suggests that the Hindus and Buddhist lived in harmony in the era that the temples were built. The scale of the temple complex suggests Candi Sewu was a Royal Buddhist Temple and was an important religious site of the past. The temple is located on the Prambanan Plain, that is between the southern eastern slopes of Merapi volcano and the Sewu mountain range in the south, near the present border of the Yogyakarta province and Klaten Regency, in Central Java. The plain houses many archaeological sites scattered only a few miles away, suggesting that this area was an important religious, political, and urban center.
The temple was severely damaged during the earthquake in Java in 2006. The structural damage is significant and the central temple suffered the worst. Large pieces of debris were scattered over the ground and cracks between stone blocks were detected. To prevent the central temple from collapse, the metal frame structures were erected on four corners and attached to support the main temple. Although some weeks later in 2006 the site were re-opened for visitors, the whole part of main temple remains off-limits for safety reasons.

The temple complex


Aerial view of Sewu temple complex shows Mandala pattern

The images of Boddhisattva on wall of perwara temple
The temple complex is the largest Buddhist compound in the Prambanan area, with rectangular grounds that measure 185 meter north-south and 165 meter east-west. The entrance is found on all four cardinal points, however judging from the layout of the temple complex, the main entrance is located on the east side. Each of the entrances were guarded by twin DvarapalaJogja Kraton. There are a total of 257 buildings in the complex arranged in a Mandala pattern around the central main hall as an expression of the view of the universe of Mahayana Buddhism. The smaller temples are consist of 248 temples with similar design and arranged in four rectangular concentric rows. Two outer rows are arranged closer and consists of 176 smaller temples, while two inner rows are arranged in certain interval and consist of 72 slightly larger temples than the outer ones. The 248 temples that are located in the second precinct all were made with a square frame but varied by different statues and orientations. Many of these statues are now gone and the arrangements on the current site are not in the original orientations. The statues are comparable to the statues of Borobudur and were likely made of bronze. statues. This large guardian statues have been better preserved and replicas can be found at
Along the north-south and east-west central axis at a distance of about 200 meter, between 2nd and 3rd row of smaller temple are located the perwara (vanguard) temples, a couple on each cardinal points facing each other. The perwara temples are the second largest ones after the main temple, however only eastern twin perwara temples and one northern perwara temples still remains today. These smaller temples encompass a larger sanctuary that has been heavily looted. Behind the 4th row of smaller temples lies the stone paved courtyard where the main temple stood on the center.

The main temple


Candi Sewu main temple at left and one of perwara temple at right
The main temple has a cross-like 20 corners polygon ground plan, with 29 meters in diameter and it soars up to 30 meters high. On each four cardinal points of the main temple, are projected outward structures each with its own stairs and entrances into each rooms and crowned with stupas, thus forming a cross-like layout. All of the structures made of the andesite stones. These four rooms are all connected with outer corner galleries with balustrades. From the findings during the reconstruction process, the original design of central sanctuary only consisted of a single roomed temple. It was later surrounded by four additional structures. Doorways were later constructed so as to join the temples together into one main building with five rooms. The central chamber can be reached from the eastern room. The central chamber is larger than other rooms with a higher roof. Now all the five rooms are empty.[2]. However the lotus carved stone padestal in central chamber suggested that the temple once contains large bronze Buddhist statue (possible the bronze statue of Manjusri), probably reaching 4 meters tall. Now the statue is missing, probably being looted for scrap metal over centuries.