Monday, July 25, 2011

Kesaksian Hussein Kazemi, Pemuda Norwegia


IVAnews - Pemuda itu duduk di sebuah tempat tidur rumah sakit. Luka-luka akibat tembakan menganga di lutut dan lengannya. Aksi penembakan brutal di Pulau Utoya, Norwegia, masih terngiang jelas dalam ingatannya. Juga sosok pria sinting berpakaian polisi yang memuntahkan peluru secara membabi buta.

Namun, Hussein Kazemi--nama pemuda itu--toh masih bisa tersenyum. Ini bukan kali pertama dia mengalami kejadian buruk. "Saya mengalami banyak situasi berbahaya di Afghanistan, meski ini pengalaman terburuk yang pernah saya alami selanjang hidup," kata Kazemi, pemuda 19 tahun, imigran asal Afghanistan, seperti dimuat situs Detroit Free Press, Senin, 25 Juli 2011.
Kazemi adalah satu dari puluhan korban luka dalam aksi penembakan yang menewaskan 86 pemuda.

Dia mengisahkan, beberapa imigran, atau anak-anak imigran, hadir dalam pertemuan yang diadakan oleh Partai Buruh itu. Penembakan terjadi hanya beberapa saat setelah ia bertanding sepak bola dengan sesama aktivis dari Afghanistan, Georgia, Turki, Irak, Sri Lanka, Somalia, Lebanon, dan lainnya.

Pemerintahan liberal Norwegia bersikap relatif terbuka terhadap para pencari suaka dari negara-negara yang dikoyak perang. Kebijakan ini salah satu yang diprotes pelaku aksi sinting ini, Anders Behring Breivik. Dia berpendapat warga muslim seharusnya disapu bersih dari benua Eropa. 
Namun, Kazemi menceritakan, saat beraksi, Breivik tidak memilih-milih target. "Dia terlihat seperti ingin membunuh siapapun. Tak ada seorang pun yang bisa menghindar."

Kala itu, Kazemi mengaku sedang berada di sebuah kafetaria saat ia mendengar bunyi-bunyi aneh: suara seperti petasan meledak, diikuti jeritan panik. Dia juga melihat, mereka yang sadar ada suatu kegawatan tengah terjadi, langsung tiarap di lantai.
"Saya ikut-ikutan tiarap, tapi aku tak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi," kata Kazemi. Lalu, ia mengaku melihat sosok penembak, disusul orang-orang di sekitarnya yang ambruk diberondong tembakan.
Sadar nyawanya terancam, ia lalu bergabung dengan sejumlah pemuda lain, berlari secepat mungkin selama 10 menit ke arah hutan. Saat mereka mencapai tepi pantai dengan terengah-engah, teman-temannya menatap ngeri ke arah Kazemi.
"Kaki saya berlumuran darah, tapi aku tak menyadarinya. Aku terlalu sibuk untuk berusaha tetap bertahan hidup," kata Kazemi.

Tiba-tiba, Breivik yang ternyata mengikuti mereka, kembali memuntahkan tembakan. Mereka hanya punya dua pilihan: bersembunyi di balik karang atau terjun ke air laut yang sangat dingin dan berenang setidaknya 600 meter ke pulau lainnya.

Kazemi mencoba keduanya. Ia bertahan di balik karang sampai tembakan memberondong ke arahnya. Dia lalu terjun ke laut meski sama sekali tak bisa berenang. Sempat tersedak asinnya air laut, Kazemi lalu berpegangan ke karang agar tidak tenggelam.

Bak kesetanan, Breivik terus menembak. Tubuh-tubuh tak  bernyawa mengambang di dekat Kazemi. Darah mereka memerahkan laut. Ia memperkirakan ada 20 pemuda yang tewas di sekelilingnya. Ia berusaha tetap diam dan dengan ngeri mengintip pelaku yang mengarahkan senapannya ke arah gadis-gadis yang menangis dan berteriak. Kembali terdengar suara rentetan tembakan. Suara tangisan pun menghilang.
Setelah satu setengah jam pura-pura mati, ia melihat polisi datang dan menangkap pelaku.

Saat serangan pertama terjadi, orang-orang secara otomatis menduga serangan itu terkait dengan organisasi Al Qaeda atau kelompok Islam militan lainnya. Sebagian lain mengaitkannya dengan serangan teror yang terjadi setelah surat kabar Denmark mempublikasikan kartun Nabi Muhammad pada 2005.

Berbagai spekulasi itu terpatahkan setelah polisi membekuk Anders Behring Breivik. Pria berkulit putih berusia 32 tahun itu mengidentifikasi dirinya sebagai seorang ekstremis sayap kanan, Kristen fundamentalis, anti-Islam, anti-Marxisme, anti-imigran, dan anti-multikulturalisme.
Masyarakat muslim setempat bertindak cepat. Dewan Islam Norwegia segera mengeluarkan pernyataan mengutuk serangan itu. Komunitas Muslim mengunjungi berbagai kelompok Kristen dan pemimpin gereja--tak hanya berbelasungkawa, tetapi juga untuk meningkatkan komunikasi di antara mereka. Mereka juga mendatangi keluarga korban dan menawarkan bantuan.

"Seperti halnya warga Norwegia lainnya, kesedihan kami sangat mendalam," kata Muhammad Tayyib, koordinator Pusat Kebudayaan Islam Norwegia seperti dimuat Al Jazeera. "Siapa pun pelakunya, muslim atau non muslim, ini adalah tragedi." (kd)
• VIVAnews




0 comments:

Post a Comment